rb3kaumanlasem

Just another WordPress.com site

SENI HADRAH RB3 KAUMAN LASEM Januari 7, 2012

Filed under: Rb3 kauman lasem rembang — rb3kaumanlasem @ 12:30 am

Hadrah,

Magnet Kesenian Tradisi Berbasis Pesantren*

 

Oleh: Abdullah, S.IP, Ketua  RB3 Kauman Lasem Kab.Rembang

 

Bagi sebagian orang, hadrah atau rebana mungkin kedengaran kampungan. Namun di situlah letak keunggulannya. Sebagai kesenian tradisi yang telah berusia tua. Turun temurun dibawakan di berbagai pelosok kampung. Terutama di lingkungan pesantren, data tarik atau apresiasi kesenian hadrah begitu besar. Salah satu khazanah kekayaan kesenian tradisi Indonesia itu memerlukan sentuhan gerakan penguatan budaya local. Kesenian lokal yang harus dipertahankan.

Salah satu fungsi seni budaya lokal adalah sebagai filter budaya luar yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan tak pantas untuk diadopsi.
Di Lasem Kab.Rembang, kota santri, group-group hadrah tumbuh subur sejak dahulu. Setiap setahun sekali diselenggaran Lomba Hadrah Tingkat Kab.Rembang memperebutkan  Piala Bupati dalam rangka Haul Mbah Sambu dan Masyayikh Lasem di Masjid Jami’ Lasem. Insyallah tahun 2012 mengundang icon hadrah Habib Syekh As Segaf Majlis Nurul Mustofa Solo. Yang kehadirannya biasanya mengundang lautan massa bak bumi bersholawat. Hadrah sesungguhnya memiliki potensi yang besar menggerakkan masyarakat ke arah positif.

Di Pondok Pesantren Kauman Lokasi RB3 Kauman Lasem,  seiiring berdirinya pesantren itu tahun 2003 telah tumbuh kesenian hadrah. Didukung Proyek RB3 2010, sebagian dialokasikan untuk dana stimulant menambah peralatan music. Membuat personil hadrah semakin giat berlatih. Semakin sering mendapat undangan tampil di kampung-kampung. Bahkan moril atau kepercayaan dirinya bertambah, mau mengikuti lomba hadrah untuk pertama kalinya dengan nama The Kauman Coy. Tahun 2010 mengikuti lomba di Pati Juara Harapan 3, lumayan. Dan baru-baru ini  Juara Harapan 1 di Lasem, sayang tidak tampil maksimal karena panitia lupa menyediakan peralatan hadrah ketepak. Yang penting tetap semangat. Menjadi garansi keberlangsungan hadrah di tanah air.

Peralatan yang dimiliki The Kauman Coy masih terbatas. Meski disamping peralatan, yang tidak kalah pentingnya kemampuan olah vocal vokalisnya. Bahkan tidak jarang ikut menentukan juara tidaknya.

Hadrah di pesantren disamping sebagai aktualisasi potensi berkesenian, media dakwah lewat music, juga sarana pelepasan relaksasi (hiburan), refressing yang positif di tengah kepenatan belajar.

Pepatah tua dari Melayu  mengatakan,” hidup tanpa seni budaya bak minum tidak bergula, pohon rindang tak berbuah,”
Ada beberapa peralatan hadrah sbb :  Tumbuk batu, Tumbuk pinggang, Marawis, Gendang tabla Tamburin PVC/ purnakel, Hajir, Cymbal Statis, Jagrak, Remo hadrah, Bass, Terbang, Tamrin, dan Ketepak.

Hadrah menggunakan drum ensemble yang biasa digunakan sebagai iringan untuk menyanyikan nyanyian yang sifatnya memuji agama Islam. Kesenian ini terdiri dari beberapa rebana antara 8 atau bahkan 10 rebana yang dimainkan dalam musik ensemble ini.

Hadrah merupakan seni menabuh terbang, sambil menyanyikan lagu-lagu Islami yang biasanya kesenian itu ditampilkan dalam setiap acara perkawinan atau hajatan.

Hadrah adalah perpaduan seni membawakan gendang, kadang dengan para penari yang menari dengan gaya duduk serta lenggak- lenggok lemah gemulai disertai gerakan yang dimodifikasi hingga timbul satu kesatuan gerak.
Biasanya alunan gendang dibawakan oleh tiga orang penabuh dan lagu. Yang didendangkan adalah yang bernafaskan Islami.
Maka kita harus punya kebanggan nasional terhadap kesenian hadrah. Jangan sampai terjadi seperti Kesenian Hadrah Bawean yang berasal dari Kabupaten Gresik, Jawa Timur diberitakan KOMPAS.com –rawan diklaim oleh Malaysia, ini lantaran berdasar laporan yang diterima Dewan Kesenian Gresik dari warga Bawean di Malaysia, kesenian tersebut mulai menjadi incaran untuk diklaim. Penduduk Malaysia biasa menyebut seni hadrah dengan nama“ kompangan”.

Atau seperti kekhawatiran Kesenian Hadrah khas Melayu Kab.Sanggau Kalbar terancam punah. Menyusul kemajuan di berbagai bidang dewasa ini.

Diharapkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat  lebih perhatian terhadap keberadaan kesenian hadrah. Agar bisa menjaga kesenian dan kebudayaannya sendiri.

Menurut Gusti Syafrudin di Sekayam Kalbar tahun lalu, seiring derasnya arus globalisasi, hadrah di Kalbar merupakan warisan leluhur yang mulai memudar. Bahkan terancam punah karena tergeser oleh budaya baru yang dipengaruhi oleh dunia barat. Seni budaya merupakan warisan dari para leluhur yang tidak boleh hilang atau terlupakan, terlebih yang bercirikan etnis dan keagamaan tertentu.

Seni Hadrah di Kab.Sanggaum Kalbar, menurut ia kini amat jarang ditampilkan dalam berbagai kegiatan. Kecuali pada waktu-waktu tertentu seperti acara resepsi pernikahan atau peringatan hari besar Islam dan festival budaya.
Sehingga menurutnya, tidak berlebihan jika ada generasi muda yang mungkin tidak tahu dengan Hadrah tersebut.
Saat ini tinggal sejauh mana masyarakat sebagai pemilik seni budaya Hadrah ini bisa mewariskan kepada generasi muda.

Menghidupkan kembali seni budaya bukan berarti lebih mementingkan sukuisme atau ego kedaerahan. Namun lebih mencerminkan nasionalisme dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia,
Kesenian Hadrah tidak hanya dimiliki suku bangsa Melayu di Nusantara. Tapi juga masyarakat Betawi Jakarta, Gresik Jatim, juga masyarakat Lasem Jawa Tengah. Bahkan seluruh daerah di Indonesia. Karena itu sangat disayangkan jika warisan leluhur ini hilang yang disebabkan oleh tidak adanya regenerasi.

Karena itu perlu ada regenerasi yang akan tetap menghidupkan seni budaya agar tidak hilang tertimbun budaya luar.

Menjadi tanggung jawab masyarakat maupun pemerintah untuk melestarikan seni budaya tersebut dan seni budaya lainnya.

Kita optimistis jika seni budaya tersebut dikembangkan, akan dapat menjadi magnet atau daya tarik tersendiri.

Maka kepedulian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu kita dukung dan tunggu program-program kongkritnya.

RB3 Kauman Lasem yang berbasis di pesantren, siap memberikan hadrah rumah atau benteng kesenian tradisi Indonesia.

Kita optimistis jika seni budaya tersebut dikembangkan, akan dapat menjadi magnet atau daya tarik tersendiri.

Lasem, 3 Desember 2011

 

 

*Telah disampaikan pada workshop penguatan budaya local di Yogyakarta tgl 9-10 Des 2011 yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta atas kerjasama Dit.Dikmas Kemendikbud.

 

 

 

Ketika saat mengikuti lomba HADRAH di kab. pati yang mendapatkan juara harapan 3 lumayan kenapa karena grup hadrah ini baru pertama kali mengikuti lomba hadrah .

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s