rb3kaumanlasem

Just another WordPress.com site

Pagelaran Seni Kontemporer Kolosal Lasem Januari 7, 2012

Filed under: Rb3 kauman lasem rembang — rb3kaumanlasem @ 12:43 am

Pagelaran Seni Kontemporer Kolosal Lasem
Oleh: Abdullah, S.IP, Ketua Padepokan Sam Bua (Seni Budaya Asmaulhusna), Lasem Kab.Rembang

Tanggal 10 Nopember 2011 adalah hari pahlawan. Pada tanggal itu bertepatan peringatan Haul Mbah Sambu, Mbah Srimpet (Tejakusuma I) dan Masyayikh Lasem. Menyambut hari itu Padepokan Sam Bua (Seni Budaya Asmaulhusna) Lasem melakukan repleksi perjuangan pendahulu kita. Kemudian muncul obsesi bersama komunitas seni budaya lainnya agar dapat segera mementaskan pagelaran kolosal episode pamungkas Perang Kuning, kisah heroik perlawanan rakyat Lasem terhadap VOC pada tahun 1750 M yang berlangsung selama tiga bulan tanpa henti. Wilayah Kadipaten Lasem saat itu meliputi Sedayu Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara.

Pagelaran seni mengambil setting tahun 1750 itu akan mengisahkan momen penyerangan terhadap markas VOC di Rembang oleh rakyat Lasem pada bulan Agustus di bawah pimpinan Adipati Lasem bernama Oei Ing Kiat bergelar Tumenggung Widyadiningrat yang berdarah Tionghoa dan beragama Islam, bersama RM Margono keturunan bangsawan (putera Tejakusuma V Adipati Lasem sebelumnya), dan Kyai Baidlowi Awwal (Ki Joyotirto).

Kemudian ada usulan dari beberapa elemen masyarakat agar penulis masukan tokoh perang kuning lainnya yang belum disebutkan. Ini berarti disamping mengambil setting 1750 kemunculan Kyai Badawi ahli kanuragan petak segara macan, juga mengambil setting Tan Kee Wie yang wafat tahun 1742, pendekar kungfu. Memang perlu, artinya perang kuning dapat ditampilkan secara utuh. Pagelaran seni tentu semakin seru, apalagi jika difilmkan. Namun yang penting figur semua etnik dan kultur sudah terwakili. Ada Tionghoa, santri, abangan dan bangsawan.

Arti penting peristiwa bersejarah tersebut, merupakan symbol kepahlawanan dan persatuan (pluralitas) di Lasem antara kalangan Tionghoa, santri, bangsawan dan abangan yang monumental yang perlu diabadikan, diwariskan kepada anak cucu. Sehingga perlu diangkat atau dipentaskan pagelarannya yang bersifat documenter pada setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kab.Rembang. Bahkan kisah tersebut diharapkan dapat menjadi muatan local sejarah daerah yang diajarkan di sekolah-sekolah di Kab.Rembang, menjadi tangga menuju kesadaran sejarah nasional.
Kebijaksanaan pemerintah kolonial masa Hindia Belanda tampaknya sampai sekarang status quo terhadap komunitas Tionghoa yang masih terisolasi di tengah kota. Melalui gerakan budaya diharapkan kembali seperti masa Tumenggung Widyaningrat, dimana semua entitas budaya dan komunitas etnik membaur dan setara. Saling memberi energi. Dengan demikian Lasem dapat berkembang, semakin kuat, maju dan makmur serta dapat memberi berkah bagi daerah-daerah di sekitarnya.

Waktu pagelaran direncanakan bulan Juli atau Agustus 2012 di alun-alun Rembang atau alun-alun Lasem depan masjid.
Ajang performance art itu didukung kegiatan wisata kuliner (lontong tuyuhan, jajanan), hasil kerajinan (batik, furniture), Seni Kreatif (lukisan, kaligrafi), agribisnis (mangga ,jagung, kawis, siwalan).

Hajat besar agenda kebudayaan masyarakat Lasem ini mendapat dukungan penuh Ki Mujar dari Sangkerta, yang sukses besar mengadakan pagelaran seni kolosal di even Jogya Java Carnival baru-baru ini. Katanya bagaimana kita bisa belajar menghargai dan menghormati perjuangan para sesepuh kita dahulu yang fenomenal tuk mengusir penjajah, yang divisualkan lewat pagelaran seni kolosal, kolaborasi seni rupa pembebasan, tari, musik, pedhalangan, sastra, teater, pantomim, kesenian etnik setempat, dan kecanggihan tehnologi audio vidio/ multi media yang dikemas dalam format pagelaran seni alternatif kontemporer, mari kita berkarya bersama. Bahkan Ki Mujar mau menyiapkan wayang raksasa dengan ukuran 1 x 2 meter terbuat dari bahan logam aluminium. Kalau begitu, nanti bisa tertantang berkolaborasi dengan kesenian Lasem tempo doeloe. Dan kesenian tradisi lainnya lainnya seperti ketoprak, hadroh, thong-thonglek, dll.

Untuk pagelaran kolosal nanti memakai personil 100 orang lebih, tidak harus orang seni, orang awam bisa kita garap. Jadi semua bisa terlibat. Bisa terdiri teman teater, ketoprak, wayang orang yang ada di Lasem, juga bisa merekrut anak sekolah, santri, pemuda masjid dan rekan IPNU. Syukur kalau ada keturunan Tionghoa, Belanda dan Arabnya. Wow asyiik jika semua elemen masyarakat terlibat.

Bahkan Pagar Nusa akan menurunkan personil penuh untuk memainkan lakon peperangan pada pagelaran seni tersebut. Yang penting bisa saling kerjasama dalam satu team. Pagelaran seni hanyalah salah satu alat untuk kita silaturahmi dan berinteraksi untuk berkarya. Tidak ada sekat-sekat politik.Hati kita dipertautkan oleh sense of art Lasem, Yogya, Madura, Halmahera, Papua yang universal. InsyAllah almarhum pahlawan Lasem yang sholeh ikut bermain di lakon yang akan kita pentaskan, terhitung sejak terbetik niat tulus kita.

Dukungan datang dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kab.Rembang yang sangat mengapresiasi rencana pagelaran tersebut.
Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip yang juga dari Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) memuji pengambilan tema sejarah tersebut dengan mengangkat nilai-nilai persatuan dan pluralitas yang selama ini dalam penulisan sejarah Lasem belum pernah diekspose. Bahkan meminta kepada penulis menyusun naskah ceritanya dengan sumber sejarah tertulis untuk kemungkinan nanti difilmkan ke layar lebar.

Sanggar Gentong Miring Sluke menyatakan kesediannya bergabung, namun katanya masih perlu dibicarakan pembagian peran secara detail.
Dukungan juga datang dari Group Hadrah The Kauman Coy, Pondok Pesantren Kauman Lasem.
Dukungan kongkrit diharapkan juga tentu datang dari Bupati dan Wakil Bupati Rembang serta masyarakat luas Kab.Rembang.

Terbuka kemungkinan kerjasama even organizer pagelaran seni kolosal ini diikutkan dalam Panitia HUT RI Pemkab Rembang, atau bekerjasama dengan Takmir Masjid Jami’ Lasem dalam rangkaian Haul Mbah Sambu.

Jauh hari sebelum pagelaran membutuhkan masukan survei pendahuluan kesenian tradisi yang ada di Kab.Rembang, agar semua lapisan masyarakat bisa terlibat dan merasakan punya gawe. Dan melakukan wawancara dengan beberapa narasumber terkait.
Dalam pagelaran seni ini harus memperhatikan adab atau sopan santun yang dijunjung tinggi masyarakat Lasem.

Maka kami mengajak semua kamunitas seni dan budaya Kab.Rembang terlibat aktif menyukseskan pagelaran seni kolosal tersebut. Karena acara ini milik kita. Dari kita oleh kita untuk kita. Mulai dari penyusunan agenda kebudayaan sampai pada pelaksanaan pagelaran seni.
Menyinggung lakon cerita, dalam Serat Sabda Badra Santi, disebutkan salah satu tokoh penting perang kuning dengan nama Kyai Ali Badawi dari Purikawak (Sumbergirang), Imam Besar Masjid Jami’ Lasem.

Kyai Ali Badawi mendapat penegasan perannya karena selama ini sedikit diekspose dalam penulisan sejarah Lasem. Padahal penting untuk memberi pesan kepada generasi muda tentang nilai-nilai kepahlawanan, kebhinekaan dan persatuan.

Keturunan beliau yaitu Kyai Abdul Aziz bin Joyotirto adalah besan Kyai Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur Bapak Pluralitas Indonesia. Dari Nyai Khoiriyyah binti Hasyim Asy’ari yang menikah dengan Kyai Muhaimin bin Kyai Abdul Aziz. Tanpa sengaja penulis juga menemukan pertautan nasab H.Syafii menantu Kyai Imron bin Syaikhona Kholil Bangkalan, putera Kyai Abdul Halim orang terkaya di Desa Mengarih Kec.Bungah Gresik. Memiliki tambak 700 ha, saking kayanya akan membuat lantai rumah, pekarangan dan jalan dengan uang logam gulden untuk tujuan menghina penjajah Belanda akhirnya dilarang. Memiliki hubungan saudara dengan Kyai Abbas Malang, Kyai Aqib Leran Lamongan dan Kyai Abdul Hadi Langitan yang asal-usulnya masih keturunan Kyai Abdul Alim Desa Tuyuhan, yang menurut Kyai Mustaidi ada yang menyebut namanya Kyai Abdul Halim bin Mbah.Sambu.

Yang mengagumkan dari Kyai Ali Badawi, juga karena kepedulian atau keterlibatan figur kyai pada perjuangan melawan Kompeni Belanda. Kyai Ali Badawi dimaksud tidak lain adalah K.H.Baidlowi. Seperti yang disampaikan oleh Bupati Rembang Hendarsono masa itu kepada K.H. Abdul Hamid Baidlowi Pengasuh Pondok Pesantren Al Wahdah Sumbergirang salah seorang buyutnya, seperti juga Nyai Hj.Nuriyyah Ma’shoem Lasem. Saat Pemkab Rembang mengabadikan namanya, Jalan KH.Baidlowi, Jalan Raya Semarang-Surabaya masuk jalan menuju kawasan Kajar yang kaya situs peninggalan Majapahit yang melewati Desa Ngemplak, Sumber Girang, Selopuro Tulis dan Kajar yang kata bupati diabadikan untuk mengenang jasa beliau pada Perang Kuning Tahun 1750 M. Menurut Pak Hendarsono yang berlatarbelakang TNI, KH.Baidlowi dulu masa perjuangan terkenal sakti ahli kanuragan petak segara macan.

Cukup menarik membaca Serat Sabda Badra Santi yang mengisahkan peranan mereka dan kedahsyatan perang tersebut. Namun karena halaman terbatas, saya kutip sebagian sebagaimana berikut:

…Wong-wong ora seneng diprentah lan dikuwasani daning “Kebo Bule”. Wong-wong padha gumrudug ngumpul jejel pipit ing alun-alun sangarepe Mesjid Lasem, padha sumpah prasetya maring RP Margana.”Lega lila sabaya pati sukung raga lan nyawa ngrabasa nyirnakake Kumpeni Walanda ing bumi Jawa”
Ing wektu kuwi kebeneran tiba dina Jumuwah wayahe santri-santri sembahyang Jumuwahan, kang diimami Kyai Ali Badawi ing Purikawak, Kyai ngulama Islam kang bagus rupane gedhe dhuwur gagah prekosa kuwi kapernah warenge Pangeran Tejakusuma I…Sawise wingi-wingine entuk dhawuhe RP Margana, sarampungi sembahyang Jumuwah Kyai Ali Badawi nuli wewara maring kabeh umat Islam, dijak perang sabil ngrabasa nyirnakake Kumpeni Walanda sapunggawane kabeh ing Rembang. Wong-wong samesjid padha saguh kanthi eklas, saur manuk sarujuk Perang Sabil bebarengan kambi brandal-brandal kang padha andher.
…Bala Sabil kang dipandhegani dening Kyai Badawi akeh kang migunakake ngelmu pengabaran petak senggara macan, jana mantra mandraguna ora tedhas ing gaman pedhang lan bayonete suradadu sarta tumbake prajurit-prajurit begundhale Walanda.
Perang ruket antarane prajurit Tumenggung Citrasoma kang dibantu mriyeme Walanda musuh Bala Sabil santri Lasem, silih ungkih adu kesekten.
Palagan ing sisih kuloni kutha Lasem katon nggrudug mbledug mangawuk-awuk…lempuk gaprukan. Perang rerempon adu arep dedreg ureg, adu kekendelan lan kasudiran sarta ketrengginasan lan kecukatan. Perang wis ruket adu dada lan dengkul, pedang nglawan bedana, tumbak nglawan keris.

Penutup
Semoga pagelaran seni kolosal ini mendapat apresiasi dan dukungan kongkrit instansi terkait, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Trims.

(Artikel di atas telah disarikan oleh Suara Merdeka kemudian dimuat di halaman Suara Muria hari Senin tgl 7 Nopember 2011)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s