rb3kaumanlasem

Just another WordPress.com site

CERITA BERBASIS BUDAYA LOKAL Januari 7, 2012

Filed under: Rb3 kauman lasem rembang — rb3kaumanlasem @ 12:46 am

Pengalaman Mengikuti Agenda Kebudayaan Tahunan Lasem*

Oleh: Abdullah, S.IP, Ketua  RB3 Kauman Lasem Kab.Rembang

Setiap setahun sekali tanggal 14 Dzulhijjah, selama 3 hari  Masjid Jami’ Lasem menyelenggarakan Haul Mbah Sambu, Adipati Tejakusuma I atau Mbah Srimpet dan Masyayih Lasem. Acara haul tersebut bukan hanya diisi kegiatan ritual dan atau keagamaan seperti tahlil, hataman Al Qur’an, sunatan massal dan prosesi pemberangkatan/ pemulangan jamaah haji. Tapi juga dimeriahkan oleh berbagai kegiatan berdimensi budaya. Seperti karnaval, lomba hadrah, dan lomba pidato bahasa Jawa. Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat dan diselenggarakan cukup meriah, sebagai event budaya terbesar di Lasem. Sehingga wajar jika penulis memasukkannya dalam Agenda Kebudayaan Kab.Rembang.

Mbah Sambu atau Sayyid Abdurrahman Basayaiban wafat 1671. Beliau putera Pangeran Benawa, putera dari Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya Raja Kerajaan Pajang, cikal bakal Kerajaan Mataram Islam. Menantu Sultan Trenggono Raja Kerajaan Islam Demak. Mbah Sambu berjasa memadamkan aksi perompak yang menimbulkan instabilitas atau kekacauan berlarut-larui di pusat kota Lasem. Wilayah Lasem saat itu meliputi Sedayu Gresik, Tuban, Rembang, Pati sampai Jepara. Atas jasanya itu Mbah Sambu yang  juga menantu  Adipati Lasem diberi tanah perdikan meliputi lokasi Masjid Jami’ Lasem sekarang di Kec.Lasem sampai ke selatan di Kec.Pancur.

Mbah Sambu juga berhasil mengusir Kompeni VOC dari Rumah Gedong yang bermarkas di Kauman Desa Karang Turi. Setelah kosong dikuasai Mbah Sambu memberi kesempatan menempati sementara kepada warga termasuk yang berstatus boro selama tidak mampu membeli rumah atau kontrak. Sampai sekarang Rumah Gedong tua peninggalan abad 17 itu masih berdiri megah, masih ditempati beberapa kepala keluarga. Pemerintah seharusnya tanggap menetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Puncak acara haul malam hari diisi pembagian hadiah lomba, penampilan hadrah pemenang lomba, sambutan Bupati yang diwakili Wakil Bupati Rembang, Ceramah Agama oleh Habib Umar Mutohhar, SH dan Pembacaan Sholawat oleh Grup Hadrah Ahbabul Musthopa yang dipimpin Habib Hilmi Kudus. Pagi sebelumnya pembacaan tahlil di makam Mbah Srimpet. Dilanjutkan siang hataman Al Qur’an. Kemudian sore harinya tahlil di makam Mbah Sambu.

Sehari sebelumnya pada sore hari ada sunatan massal yang diikuti 25 anak. Setelah siang harinya  masyarakat Lasem dihibur Karnaval berkeliling jalan raya Surabaya-Semarang  di seputar Lasem tidak kurang 3 jam diikuti 35 regu, 1500 orang, dari berbagai  sekolah, pondok pesantren dan organisasi kemasyarakatan. Mereka berpartisipasi secara sukarela. Berbagai corak ditampilkan peserta pawai. Ada beberapa SD/ MI menurunkan Group Marching Band yang tampil sangat dahsyat. Saya menyaksikannya cukup terharu, sangat membanggakan. Peserta lainnya ada yang berpakaian daerah dan modis tapi ada juga yang apa adanya mencerminkan kesederhanaan namun penuh semangat berjalan kaki yang cukup jauh sembari membawa sepanduk bertuliskan pesan-pesan, slogan atau ajakan melanjutkan perjuangan masyayih,  dan bercanda menggunakan atribut seperti topi petani yang beraroma kritik membangun. Di sepanjang jalan yang dilalui peserta karnaval berderet ratusan pedagang kaliki lima dadakan. Malam harinya lomba hadrah diikuti 19 peserta group hadrah. Mereka tampil di panggung yang dipersiapkan panitia cukup apik dan megah. Penampilan mereka tidak main-main, semuanya menggunakan kostum hadrah yang cukup serasi.

Setelah puncak acara masih menyisakan acara prosesi pemulangan jamaah haji beberapa hari kemudian, menunggu kedatangan dari tanah suci. Pesan yang ingin disampaikan pemberangkatan haji dipusatkan di masjid agar mendapat doa keselamatan dari jamaah masjid bagi jamaah haji asal Indonesia. Sedangkan kedatangan jamaah haji langsung ke masjid tidak ke rumah untuk melakukan sujud syukur dengan menunaikan sholat kemudian membacakan doa untuk kaum muslimin dilanjutkan bersalaman dan selanjutnya diantar jamaah masjid ke rumah masing-masing.

Cerita berbasis budaya local di atas disamping diterbitkan/ dibukukan, diharapkan rangkain kegiatan haul tersebut nantimya dikembangkan terus. Penulis punya ide pementasan seni kontemporer kolosal mengabadikan perjuangan para pahlawan atau masyayih. Jika mendapatkan dukungan moril dan materiel dari berbagai pihak terkait mengusulkan tahun berikutnya dimasukkan sebagai tambahan atau bagian rangkaian kegiatan Haul Mbah Sambu.

*Telah disampaikan pada workshop penguatan budaya local di Yogyakarta tgl 9-10 Des 2011 yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta atas kerjasama Dit.Dikmas Kemendikbud.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s